cerpen pendidikan berkarakter (Pasti Bisa)

Rabu, 09 November 2011

PASTI BISA
oleh : Tifa Zulfa Yasmin

Pagi di kota Surakarta yang ramai karena semua orang berbondong-bondong untuk bergegas menuju sekolah ataupun berangkat sekolah. Terdengar suara kendaraan yang dinyalakan di sekitar rumah-rumah dan suara klakson kendaraan karena semua orang yang sedang terburu-buru. Tapi, tidak untuk seorang cewek. Cewek ini baru saja bangun dari tidurnya dan bermalas-malas mau menuju kamar mandi untuk bersiap-siap. Rambut panjangnya acak-acak karena dia baru terbangun dari tidur panjangnya. Dia masih saja berlama-lama seakan dia tidak peduli dengan waktu, seakan-akan dia tidak peduli akan terlambat sekolah. Walaupun akhirnya dia bisa masuk ke sekolah dengan ‘tepat waktu’ yaitu tepat pukul 06.30 WIB, saat bel tanda masuk atau memulai pelajaran SMA Negeri  Widya Surakarta berbunyi dengan begitu merdu dan kerasnya. Cewek ini menuju ke ruang 21 yang berada di atas yaitu kelas XI IPA 4 dengan santai dan tidak berlari seperti murid-murid lain yang berlari-lari menuju kelas mereka karena takut terlambat.
            “Risa! Lagi-lagi kamu terlambat masuk kelas!” kata bu Merita yang mengajar mata pelajaran matematika sekaligus wali kelas XI IPA 4. Cewek yang ternyata bernama Risa ini berdiri diam di depan pintu kelas sambil memandang cuek ke arah Bu Merita. ”Ah, saya tidak telat kok kali ini bu. Buktinya saya masih bisa masuk ke kelas, bukannya kalau siswa telat tidak bisa memasuki sekolah untuk 1 jam pelajaran dulu bu? Saya benar bukan? Atau saya perlu melihat ke buku peraturan dulu dan membacakannya?” jawab Risa sambil berjalan menuju bangkunya dan segera duduk. Bu Merita diam, anak-anak satu kelas juga ikut diam. Tidak ada satu pun yang bisa menjawab perkataan Risa.
            ”Hh, ya sudahlah kali ini kamu akan ibu maafkan karena hari ini adalah hari pertama kita bertemu di kelas XI ini. Tapi lain kali kamu tidak boleh sampai terlambat lagi seperti ini, kamu harus berjanji pada ibu. Mengerti Risa?” kata bu Merita. ”Yaa bu..” jawab Risa malas dan asal-asalan. Hari ini memang hari pertama masuk setelah libur panjang kenaikan kelas. Bu Merita sudah mengajar Risa dari kelas X jadi mengetahui perilaku Risa. Dan sekarang beliau diputuskan untuk mengajar di kelas XI sekaligus menjadi wali kelas XI IPA 4.
            Risa sejak kelas X, bahkan sejak SD sudah terkenal sebagai anak yang sama sekali tidak mempedulikan peraturan sekolah. Mungkin bahkan dia sama sekali tidak tertarik dengan itu. Karena seperti itu, Risa selalu sendirian dan tidak memiliki teman. Alasan sebenarnya kenapa Risa bersikap seperti itu adalah karena orang tuanya. Risa selalu sendiri di rumah karena kedua orang tuanya sibuk bekerja. Setiap hari Risa hanya dikirimi uang oleh ayah dan ibunya lewat rekening untuk hidupnya sehari-hari. Hal itu sudah berlangsung sejak Risa kecil. Karena itu Risa menjadi cewek yang dingin dan selalu sendirian. Dia tidak peduli dengan peraturan, tak memiliki semangat untuk meraih sesuatu, tidak mau diberi tanggung jawab apapun dari teman-temannya, tidak pernah menepati janji dengan guru, dan sebagainya. Tapi jangan salah, Risa adalah anak yang sangat pintar. Walaupun sepertinya tidak pernah memperhatikan pelajaran, seperti tidur di kelas tapi nilai-nilainya selalu yang tertinggi di kelasnya. Oleh sebab itu, semua guru tidak bisa menegurnya dengan keras.
            ”Hei, aku boleh duduk di sebelahmu tidak?” kata seorang cewek berambut pendek tiba-tiba duduk di samping Risa yang sedang memakan bekal rotinya. Memang saat itu adalah jam istirahat pertama. Risa biasanya membawa roti dari rumah karena tidak mau berjalan jauh ke kantin dan berdesak-desakkan dengan murid yang lain untuk membeli makanan. Risa diam sejenak memandang heran dan dingin ke arah cewek yang terus tersenyum sambil memandang Risa itu. ”Terserah..” jawab Risa tidak peduli sambil memalingkan wajahnya dari cewek itu dan melanjutkan makannya. ”Makasih..” kata cewek itu tambah riang. ”Namamu Risa, kan? Aku Mira.. salam kenal ya..” kata cewek yang bernama Mira itu masih riang. Risa cuek tidak peduli.
            Lalu dari hari ke hari Mira selalu mengikuti Risa kemanapun. Saat di kelas, jam olahraga maupun saat jam istirahat. Mira selalu mengagumi apapun yang di kerjakan oleh Risa. Risa yang bisa menjawab pertanyaan guru dengan sangat mudah. ”Wah, kau hebat Ris..” bisiknya pada Risa saat Risa mau duduk kembali ke bangkunya. Risa yang melakukan pelajaran olahraga dan seni dengan baik. ”Risa kereeen..” begitu katanya sambil benar-benar mengagumi Risa.
            Mira adalah siswi yang sangat mematuhi peraturan yang ada di sekolah. Dia selalu datang paling pagi di antara teman-teman sekelasnya di kelas. Dia selalu mengumpulkan tugas tepat waktu. Dan dia sangat bersemangat dan mendengarkan seluruh perkataan yang diucapkan oleh setiap guru di kelas. Sangat berlawanan dengan perilaku Risa.
            Karena setiap hari di sekolah Mira selalu mengikuti Risa kemanapun Risa pergi dan selalu mencoba mengajak Risa ngobrol walaupun Risa sama sekali tidak merespon, lama kelamaan Risa menjadi terganggu. ”Hei, hei Risa..” kata Mira memanggil Risa. ”Kenapa kamu terus-terus mendekatiku? Apa kamu tidak lihat? Aku tidak sama sepertimu, aku murid yang sama sekali tidak peduli dengan peraturan dan sama sekali tidak memiliki cita-cita sepertimu..” kata Risa memotong pembicaraan Mira. Saat itu adalah pelajaran Fisika. Guru fisika yaitu Pak Bowo sedang membagikan hasil ulangan mendadak minggu lalu. Mira yang dikatakan begitu oleh Risa langsung diam tak mengucap sepatah katapun.
”Risana..” kata Pak Bowo memanggil nama Risa yang memang bernama panjang Risana Dewi Utami. Lalu Risa maju untuk mengambil hasil ulangannya. Nilainya 98, hampir sempurna. ”Bagus, tingkatkan nilaimu agar menjadi lebih sempurna..” kata Pak Bowo. Pak Bowo memang terkenal dikalangan murid sebagai guru yang bermulut pedas dan seenaknya sendiri. Tapi Risa tidak memperdulikan perkataan pak Bowo dan mau kembali ke tempat duduknya. ” Viona Miranda Putri..” kata pak Bowo memanggil nama panjang Mira semprot dengan agak garang. Risa yang mau kembali ke tempat duduknya berpapasan dengan Mira yang mau maju untuk mengambil hasil ulangannya. Risa melihat wajah Mira yang begitu pucat saat mau maju. ”Viona!! Apa-apan nilaimu ini? Hanya 12???” semprot pak Bowo di depan kelas sambil memberikan kertas jawaban ulangan Mira dengan agak kasar. ”Ma, maaf pak..” kata Mira terbata-bata sambil mengambil kertas jawaban ulangan miliknya takut-takut. ”Apa-apaan kamu?! Apa kamu tidak pernah memperhatikan pelajaran bapak???” bentak pak Bowo semakin keras. ”Ti, tidak pak..” kata Mira semakin terbata-bata, tangannya menggenggam erat kertas jawaban ulangannya sambil gemetar sampai kertas itu menjadi lecek. ”Tidak apanya!! Coba lihat kenyataannya!! Lihat nilai yang tertera di kertasmu itu!!” bentak pak Bowo. ”Ma, maafkan saya pak..” kata Mira semakin erat menggenggam kertas ulangannya. ”Hh.. dasar kamu ini coba contoh Risa, padahal kalian bersebelahan. Apa kau tidak malu dengannya?” kata pak Bowo sambil menghela napas seolah-olah menghina Mira. Mira semakin erat menggenggam kertas jawabannya, sampai rasanya kertas jawaban itu sudah sobek dan kukunya telah melukai kulitnya. Risa yang sedari tadi diam sambil mendengarkan sudah mulai kesal dengan perkataan pak Bowo. Mira masih berdiri di depan kelas sambil hampir menangis. ”Bapak jadi heran, kenapa kamu bisa masuk IPA sih? Mau jadi apa kamu nanti dengan nilai segini..” kata pak Bowo.
”Sudah cukup pak!” kata Risa berdiri dari bangkunya. ”Eh?” kata pak Bowo terkejut. ”Maaf pak, tapi saya rasa perkataan bapak sudah keterlaluan..” kata Risa berjalan menuju ke depan kelas mendekati Mira. ”Pst, iya, kayaknya emang pak Bowo itu udah kelewatan deh..” bisik murid-murid di kelas. ”Diam!!” kata pak Bowo agak galak. Lalu semua murid menjadi diam kembali. ”Apa maksudmu, Risana?” kata pak Bowo. ”Risa..” kata Mira lirih. ”Walaupun memang benar bahwa Mira tidak mampu, seharusnya bapak mengajari dia agar mampu.. bukankah itu tugas seorang guru, pak guru?!” kata Risa dengan intonasi yang agak ditekankan di kata yang di cetak tebal. ”Ka, kamu..” kata pak Bowo kesal. ”Kita lihat pak, apakah memang Mira tidak mampu atau..” kata Risa menarik Mira ke sampingnya. ”Apa maksudmu bapak tidak bisa mengajar???” bentak pak Bowo. ”Saya tidak bilang begitu..” kata Risa tersenyum. ”Ri, Risa..” kata Mira panik. ”Ergh.. baiklah, jika Viona tidak bisa mendapatkan nilai sempurna di ujian yang akan bapak adakan khusus untuk Viona, kamu akan mendapat nilai nol dan kamu harus meminta maaf terhadap bapak!!” bentak pak Bowo. ”Tapi, jika Mira bisa mendapatkan nilai sempurna bapak harus meminta maaf pada Mira di depan semua murid dan bapak harus memperbaiki sikap bapak..” kata Risa. ”Baik akan bapak lakukan..” kata pak Bowo. ”Lalu, kapan ujiannya akan diadakan pak?” kata pak Bowo. ”Kalau begitu kapan waktunya pak?” kata Risa. ”Besok senin..” kata pak Bowo. ”Eh, itu artinya kan 5 hari lagi? Apa bisa?” bisik murid-murid. ”Baik pak..” kata Risa setelah terdiam sejenak. Mira panik setengah mati. Murid-murid juga ribut. ”Semuanya tenang!! Kita masih di tengah pelajaran!! Kalian berdua juga kembali ke tempat duduk kalian..” kata pak Bowo. Lalu Risa dan Mira kembali bangku mereka. Risa melihat Mira yang masih shock lalu memberinya surat di kertas kecil yang bertuliskan ’Tenang saja, kamu pasti bisa, oh iya mulai hari ini luangkan waktumu sepulang sekolah’. Mira menanggapinya dengan mengangguk dan dengan tampang masih shock.
Sepulang sekolah, matahari bersinar dengan cerah dan panasnya seolah-olah dia sedang memerkan sinarnya dan mengejek anak-anak yang baru mau pulang sekolah. Risa mengajak Mira ke rumahnya untuk belajar. ”Wah, rumahmu besar ya Ris..” kata Mira saat masuk ke rumah Risa. Risa diam saja. ”Dimana ayah dan ibumu?” kata Mira. ”Mereka berdua bekerja. Biasanya pulang saat aku sudah tidur dan berangkat kerja sebelum aku bangun, bahkan sering kali mereka dinas di luar kota ataupun luar negeri..” kata Risa. ”Kamu sendirian?” kata Mira. ”Tidak aku sudah biasa. Ini sudah berlangsung sejak aku masih SD.” kata Risa sambil mengambil buku-buku yang dari rak. ”Risa..” kata Mira prihatin. ”Sudahlah itu tidak penting.. ayo kita belajar.” kata Risa meletakkan buku ke atas meja. Mira menunduk dan diam sejenak. ”Risa, sebenarnya aku tidak yakin kalau aku bisa melakukannya.. aku ini bodoh, Ris..” kata Mira. Risa diam sambil menatap Mira yang masih tertunduk. ”Aku tidak akan bilang begitu kalau aku tidak yakin kau bisa.. aku bilang begitu karena tau kau bisa.. aku tidak bodoh, ingat nilaiku juga dipertaruhkan..” kata Risa. ”Risa.. makasih..” kata Mira memandang Risa lalu tersenyum. ”Nah, sekarang ayo kita mulai latihan intensif kita..” kata Risa.
Lalu dimulailah latihan intensif Risa terhadap Mira selama 5 hari itu. Mira selalu ke tempat Risa saat pulang sekolah dan pulang selalu larut malam dengan diantar oleh Risa. Risa datang pagi kesekolah untuk mengajari Mira di pagi hari. ”Eh, Risa? Tumben kamu datang pagi? Kamu sakit?” kata Bu Merita dengan tampang shock yang tidak sengaja berpapasan dengan Risa yang datang pagi mau menuju ke kelasnya. Risa diam sambil memandang heran ke Bu Merita. “Jadi, sebenarnya bu guru lebih senang kalau aku datang telat?” kata Risa. ”Eh, tidak bukan begitu.. Nah, kamu seharusnya seperti ini dari dulu..” kata Bu Merita agak tertawa dan mengusap-usap kepala Risa. Lalu Risa juga jadi bersosialisasi dengan teman-teman satu sekolah (karena beritanya cepat menyebar) seperti siswa-siswi yang bilang, ”Ris, kamu keren lho..”, ”Hebat, bisa nantangin pak Bowo, katanya sampe gurupun gak berani gara-gara dia guru senior.”, atau ”Keren bisa buat pak Bowo sampe mati kutu begitu..”. Sikap Risa juga sudah mulai berubah sedikit demi sedikit.
Latihan intensif yang di berikan Risa ke Mira itu seperti saat pagi harus menghapal rumus. Di tempat pencil, dompet dan semua barang-barang yang sering di lihat oleh Mira di tempeli rumus fisika. Saat istirahat biasanya di beri soal latihan oleh Risa jika sudah bisa menyelesaikan baru boleh makan. Kalau misal ada salah satu, maka makanan Mira akan di ambil oleh Risa satu dan begitu seterusnya. Lalu, saat pulang sekolah biasanya Mira di beri latihan soal oleh Risa, Risa juga mengecek apakah Mira sudah hafal dan mengerti rumus dan mengajari cara cepat menghitung. Hal itu berjalan terus selama 5 hari.
Lalu hari-H pun datang. Mira mengerjakan soal yang diberikan pak Bowo dengan sukses. Memang soalnya lebih sulit. Risa sudah meminta bantuan pak Haris (yang juga guru fisika) untuk memeriksa jawaban Mira saat itu juga. Nilai Mira sempurna. Risa dan Mira langsung bertoss ria. Dan anak-anak satu kelas langsung bersorak-sorai gembira ikut meramaikan suasana. Lalu pak Bowo pun meminta maaf pada Mira dihadapan semua murid dan dijawab dengan kata ”terimakasih” oleh Mira.
Lalu saat pulang sekolah. ”Mau kemana nih?” kata Mira. ”Ya sudah, ayo kita pergi makan.. tempatnya kamu yang milih, aku traktir. Anggap aja sebagai hadiah keberhasilanmu..” kata Risa. ”Asiiiik..” kata Mira senang langsung menggandeng Risa.”Hei, Risa, Mira!! Kalian hebat lho!!” kata teman-teman satu kelas, Risa dan Mira langsung menoleh. ”Cita-cita kalian apa sih?” kata satu orang siswa iseng-iseng tanya. Risa dan Mira saling berpandangan sejenak. ”Pekerjaan yang bisa mengubah dunia jadi lebih baik..” kata Mira dengan riang dan Risa tetap dengan tampang sok cueknya bersamaan. ”Apa kalian yakin bisa?” tanya seorang siswi. Risa dan Mira saling berpandangan lagi. ”Pasti bisa!” kata Mira dan Risa dengan tegas mengahadap ke arah teman-temannya dengan Mira yang senyum dengan lebar dan Risa yang tetap dengan tampang cueknya tapi agak tersenyum.

TAMAT


1 komentar:

Tifa Zulfa mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.